Tuesday, August 31, 2004

Mungkin karena ini tentang Hati. Aku selalu jadi sangat berhati hati.
Bukan apa apa, ini Hati. Yang cuma satu dimiliki manusia, yang
nilainya bisa jadi sama dengan nyawa. Makanya aku jadi luar biasa
resah memikirkannya, ketakutan aku sudah menyakiti Hatinya, ngeri
kalau dia akan membenciku setelah ini. Toh dia hanya bilang, tidak
ada yang berubah. Ini biasa saja, semuanya sudah dia kira akan terjadi
diantara kita. Toh aku tetap tak bisa berhenti memikirkannya, hatinya,
dan kita tentu saja. Kata temanku aku mungkin jatuh cinta, tapi aku
bilang bahkan untuk memilikinya pun aku tidak tertarik.

Hati pula yang membuatku pernah jatuh hati pada seorang lelaki yang
menangkap resah lelah tubuh dan otakku semalam setelah pulang
ke rumah buatku tak akan mampu meredam lelahku sepanjang
paginya. Dia yang selalu ada, selalu tersenyum dan menyapaku
dengan hangat. Dia yang kebaikan Hatinya yang membuatku dulu
yakin dialah yang aku butuhkan setelah perjalanan panjang yang
mengoyak habis diriku selama hampir dua tahun. Dia yang membuatku
aman dan tenang membalut luka luka bernanahku walaupun dia tahu
dia tak akan pernah bisa memperoleh hatiku, diriku.

Malam ini aku tahu, dia salah. Dia salah besar kalau merasa tak
layak mendapatkan hatiku, diriku karena malam ini aku tahu
walaupun cuman enam puluh hari lebih aku memberikan semuanya
padanya, dia layak memperoleh itu semua. Tak ada yang aku sesali
dari saat saat itu, kecuali saat aku mengakhiri hubungan kita hanya
karena ternyata aku masih tergayut luka lamaku hingga aku tak bisa
mencintainya sebesar dia mencintaiku. waktu dulu.

Dan beranikah aku menguji sebuah hubungan persahabatan
yang mestinya mungkin bisa lebih dari persahabatan hanya karena
kita tidak pernah punya kesempatan untuk menjadi lebih dari sahabat?



Thursday, August 26, 2004

Malam datang bersama tatapan lelah seusai hari. Bersama bisik
bisik cinta pengantar tidur. Bersama cerita cerita tak berkesudahan
tentang cuaca, senyum, kejahatan dan kerasnya hidup serta
harapan buat esok.Malam seolah bisa menelanjangi kita setelah
seharian mengenakan terlalu banyak topeng atau bersembunyi
dibalik banyak alasan yang dibuat atas nama apapun.Malam memang
tak hanya milik para kekasih gelap ataupun para teman tidur, tapi juga
milik bayi bayi yang baru lahir dan para penderita insomnia kapiran.

Seperti malam ini waktu aku tahu kalau dia sama sekali tidak sekuat
harapan harapan yang dibuatkan orang lain untuknya, ataupun sekuat
tuntutan tuntutan perempuan perempuan itu atas seorang lelaki. Malam
ini dia terduduk di depanku dengan pakaian sekedarnya dan rambut
tak terikat ke belakang seperti biasanya. Suaranya lembut cenderung
manja. Tatapannya redup walaupun genggaman tangannya tetap hangat
dan erat.Diajaknya aku bicara tentang kejujuran, cinta dan kekuatan.

Sementara itu di tempat tidurku seorang lelaki sedang resah dengan
tumpukan tumpukan beban tak berkesudahan di pundaknya. Dia
hanya diam menatapku dengan tatapan dalamnya yang tak pernah
bisa aku baca seperti biasanya. Dia mendengar dan melihat tapi
dia tidak bersamaku. Bahkan mungkin dia tidak sempat cemburu.

Malam ini aku terlalu lelah seperti malam malam lalu. Sisa tenagaku
hanya cukup untuk memeluk seorang lelaki dan mencium keningnya
mengucapkan selamat tidur. Entah besok malam, tapi malam ini
doa ku panjang panjang karena aku ingin keluargaku bisa lebih kuat
dan lebih jujur dari kemarin, seperti diriku yang kadang sering kehilangan
keberanian di saat saat yang salah seperti malam ini...



Tuesday, August 24, 2004

ternyata dia tidak sekuat yang mereka inginkan, tidak setegar yang
mereka harapkan. dan dia menemukanku, si penggelar permadani
di bahu dan hati untuk kekasihku. dia melihatku berlari dan melompat
atas nama keinginan, dengan bahar bakar impian. tapi bukan tentang
masa depan. dia menginginkanku, tapi pada waktu yang salah.
sangat salah, andai saja manusia bisa berkuasa atas waktu (toh kita
tak akan pernah bisa menguasai cinta).

mencintai dengan kekuatan, tak pernah jadi salah satu kehebatanku.
karena aku manja, cengeng dan rapuh. aku tak pernah mampu
membuat diriku sendiri bisa jadi kuat atau lemah, karena aku
sudah terbiasa menggelar kasurku sendiri untuk malam dan
besok pagi. untuk bercinta, untuk mencinta, untuk dicinta.
Tuhan masih terlalu murah hati untuk seorang hamba pemalas
seperti aku. Tuhan masih mau mengetes batas kekuatanku saat
kuat bukanlah (sekali lagi) keistimewaanku.

Tapi bahagia sekarang jadi milikku, disela kekhawatiran dan
hujaman tanya tak terjawab. Diantara pelukan pelukan hangat
serta rampasan rampasan kemenangan atas kehidupan sejak
setahun terakhir ini. Bahagia sudah tak lagi jadi kata yang semu
serta mengada ada untuk seorang yang tidak sabaran namun
keras kepala seperti aku.Kenapa tiba tiba aku tak bisa berhenti
memikirkan keluargaku?...

Friday, August 20, 2004

Ngobrol itu bikin nyandu ternyata. Seperti cinta, mencintai dan dicintai.
Melihat mata yang berbinar, bibir yang tertawa dan tersenyum, serta
emosi yang naik turun hingga semua pembicaraan terhenti dan mungkin
tinggal menyisakan sebuah helaan nafas pada akhirnya. Mungkin itu
sebabnya aku mudah jatuh cinta pada orang yang bisa mengobrol dengan
aku, yang mendengarkan dan memberi serta meninggalkan sesuatu di
dalam diri setelah setiap obrolan kita selesai.

Tak mempercayai kesetiaan, percaya kejujuran serta mencintai Hari Ini.
Dan hari ini seorang teman kembali pulang ke rumahku yang selalu ku
anggap dia adalah Jiwanya, sementara aku si Hati dan kekasihku adalah
Otaknya. Juga lirik lagu lagu cinta yang tidak manis tapi emosional milik
seorang teman baru yang membuatku tertawa semalaman tadi malam.
Memutuskan kalau menghindar terus menerus dari tekanan di kantorku
mesti dicari jalan keluarnya segera atau aku mati perlahan oleh mereka.

Dan untuk kamu, saya cinta kamu. Saya tahu itu. Hari ini, malam tadi.

Wednesday, August 18, 2004

Ternyata dia bingung apakah mesti menginginkanku sekarang atau nanti.
Mungkin sebingung aku yang tak tahu mesti pulang kemana karena dimanapun
akhir akhir ini aku lebih sering dimanja bahagia.Tapi aku tahu aku tak akan
membiarkannya merusak kebahagiaanku, hidupku. Tak ada yang boleh
merusaknya atas nama apapun karena aku layak memiliki hidup seperti yang
aku inginkan. Toh aku akan membiarkan Tuhan mengambilnya suatu hari nanti.
Tapi sekarang, biarlah aku jadi tuan untuk hidupku sendiri. Jatuh bangun untuk
membuatnya berarti setiap detiknya, bermakna lebih dari sekedar hirupan nafas
serta caci maki tak penting atas banyaknya kebusukan dalam hidup.

Sebuah wajah lelaki dengan rambut ikal dan alis yang bisa naik sebelah
membuatku tersenyum minggu sore. Sebuah wajah lelaki berambut keriting pirang
membuatku tertawa semalaman tadi malam. Sebuah wajah lelaki berkacamata yang
manis membuatku tersenyum hangat sepanjang akhir pekan. Sebuah wajah lelaki
yang teduh telah menggayutiku sepanjang minggu ini. Sebuah wajah lelaki yang selalu
ada di depan wajahku sebelum aku tidur serta saat aku bangun membuatku percaya
kalau cinta adalah hari ini. Sebuah wajah perempuan penderita asma yang selalu
tak pernah sadar betapa hebatnya dia!

Ibuku masih saja tak perlu tahu kalau anak sulungnya sekarang punya rajah di tubuhnya,
atau sudah lama punya kekasih yang tinggal bersamanya setiap akhir pekan, atau sama
sekali tak dekat Tuhan selama setahun ini. Ibuku yang selalu menjadi penghalangku untuk
bisa mencintai Tuhan tanpa syarat. Ibuku yang selalu tahu kalau penyakitku kambuh.
Ibuku yang selalu tak pernah melihat betapa kayanya hidupku sekarang. Ibuku yang
ketakutan anaknya tak membutuhkannya saat mereka keluar dari rumah.

Selalu merasa tak pernah cukup kuat, cukup pintar, cukup berani dan cukup berarti
untuk kehidupan ini sendiri...aku. Aku yang ...


Tuesday, August 03, 2004

Sekali lagi kejujuran yang membuat kelegaan datang saat
ketakutan dan kekhawatiran menyerbu bersamaan.
Tak ada yang bilang mesti sekarang kalau memang bukan
waktunya, juga tak harus buru buru kalau memang ini
semua butuh waktu.

Kebahagiaan sekarang adanya setiap hari, tinggal kita
sendiri yang memutuskan apakah mau memetiknya
atau membiarkannya sebelum kita coba petik lagi suatu
hari nanti.

Seperti kebahagiaan mengetahui betapa hadiah ulang
tahun buat seorang teman ternyata disukainya. Atau
kebahagiaan saat bertemu teman lama yang sekarang
sudah bersama kekasih barunya. Atau juga kebahagiaan
saat menyadari betapa sayangnya kekasihku padaku.
Juga kebahagiaan ternyata aku dan seorang temannya
teman masih saja punya cara yang persis sama untuk
tawar menawar media yang aku lapakkan. Kebahagiaan
sesederhana ngelapak lagi setelah sekian lama tidak
ngelapak. Termasuk kebahagiaan menemukan kalau
seseorang mulai perlahan membuka dirinya padaku.

Dan malam ini aku tahu kebahagiaan itu ada.

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Name :
Web URL :
Messege :